05/04/11


 “SINGAPURA BASIS ISRAEL ASIA TENGGARA: Moncong Meriam di Jidat Indonesia”
Singapura sebagai salah satu negara di kawasan Asia Tenggara, dalam perkembangannya mengalami kemajuan yang cukup cepat yang menghantarkannya masuk ke kategori negara maju di kawasan Asia Tenggara. Negara yang memiliki luas wilayah tidak terlalu besar (dibanding Indonesia maupun Malaysia), mengalami perkembangan yang cukup pesat khususnya di bidang perekonomian. Dengan tingkat perekonomian yang tinggi di negara tersebut, di sektor bidang yang lain pun mengalami dampak kemajuan pula, salah satunya dari sektor pertahanan. 
Dalam sejarah perkembangan Singapura dari awal hingga terbentuknya negara tersebut, menjadi sorotan utama dimata dunia Internasional sebagai negara yang dinilai maju. Kemajuan tersebut seperti yang ditulis oleh Rizky Ridyasmara, tergambar dari keadaaan atau kondisi masyarakat di Singapura. Sebagian besar warga negara Singapura berasal dari etnis Cina yang terkenal dengan etos kerjanya yang tinggi, dan wajar bila tingkat perekonomian di Singapura mengalami kemajuan yang cukup pesat, sehingga diperlukan sebuah sistem pertahanan guna melindungi wilayahnya dari serangan luar.
            Dari alasan tersebut, menjadikan seluruh warga negara menjadi seorang tentara, dimana di negara tersebut diberlakukannya wajib militer bagi warga negaranya yang telah berusia 18 tahun. Setiap warga negara dilatih untuk menjadi sebuah tentara yang memiliki keterampilan di bidang militer yang dapat digunakan oleh negara saat genting seperti perang. Dari peraturan yang dibuat oleh pemerintah negara tersebut, sehingga sulit dibedakan mana warga negara berstatus sipil dengan tentara atau warga negara yang benar-benar militer, karena masing-masing warga negara Singapura telah memiliki senjata api, di kapling-kapling dalam registrasi keanggotaan seperti divisi, batalyon, korps dan sebagainya.
            Perekonomian yang tumbuh dengan cepat di Singapura tersebut membuat pertahanan yang dibuat oleh pemerintahan setempat diterapkan mengikuti model pertahanan Israel (menjiplak secara terang-terangan dengan mengambil contoh dari Israel). Di negara Zionis tidak ada dikotomi antara sipil-militer, semuanya adalah tentara, termasuk juga perempuan. Sebab itu bukan suatu kebetulan belaka, jika Singapura mirip dengan Israel, sebab negeri mungil yang diapit Malaysia dan Indonesia tersebut membangun infrastuktur angkatan perangnya menjiplak bulat-bulat sistem pertahanan dan keamanan Israel. Dengan total luas wilayah hanya 692,7 kilometer persegi yang terdiri dari 64 pulau di ujung Semenanjung Malaya, ini termasuk wilayah perairan yang mencapai luas sekitar 1,444 kilometer persegi dan memiliki anggaran militer mencapai 4,3 milliar.
            Besarnya anggaran militer yang dimiliki Singapura sama sekali tidak rasional dibandingkan dengan luas wilayah yang harus dipertahankan, hal ini bagaimanapun juga menimbulkan kekhawatiran bagi negara-negara yang berbatasan dengan Singapura (Indonesia dan Malaysia). Dan tidak menutup kemungkinan praduga-praduga yang kurang positif di kawasan regional yang mencap Singapura sesungguhnya memiliki nafsu imperialisme di dalam dirinya, sesuatu yang sebenarnya sudah dinyatakan secara terbuka oleh Lee Kuan Yew sebagai pemimpin tertinggi.
            Praduga-praduga yang timbul dengan melihat dari segi tingginya anggaran militer yang dimiliki Singapura, Rizky Ridyasmara memaparkan tindak tanduk Singapura terhadap iklim perpolitikan di Indonesia, dimana kedua negara tersebut berbatasan langsung satu sama lain. Dalam hubungannya dengan Indonesia, dari masa ke masa rezim kekuasaan di Indonesia pasca kemerdekaan hingga masa reformasi dinilai bukan sebagai tetangga yang baik. Ini tercermin pada masa zaman rezim Soekarno, pernah berkonfrontasi dan berlanjut hingga masa rezim Soeharto disaat situasi politik memanas di bulan Mei 1998, yang menyebabkan jatuhnya kepemimpinan Soeharto selama 32 tahun, selain kekacauan yang terjadi akibat dari krisis moneter pada saat itu, Singapura memiliki andil yang cukup besar di akhir masa kepemimpinan Soeharto.
            Campur tangan Singapura yang menyebabkan jatuhnya kepemimpinan pada akhir masa Orde Baru, memiliki motif karena Soeharto pada saat akhir masa kepemimpinannya, arah politik Soeharto berbalik total, dimana pada awal masa Orde Baru sangat aspiratif terhadap kaum minoritas dan Imperialisme Barat, namun pada akhir masa Orde Baru, Soeharto menerapkan sistem proporsional dalam arah politiknya, yakni lebih mendekatkan diri kepada mayoritas rakyat Indonesia yang Islam. Hal ini membuat kekecewaan dari para kalangan minoritas dan Imperialisme Barat yang menanamkan investasi untuk meningkatkan perekonomian Indonesia tidak senyaman seperti pada masa sebelumnya. Perubahan arah politik Soeharto yang lebih mendekatkan diri kepada mayoritas rakyat Indonesia yang Islam (pada dua dekade pemerintahan Soeharto Islam dipandang sebagai anak tiri), membuat nuansa perpolitikan di Indonesia pada saat itu yang memungkinkan Indonesia menjadi sebuah negara Islam. Dimana orang-orang yang non islam dipinggirkan di Instansi pemerintah.
            Krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia sebagai sebuah konspirasi politik tingkat tinggi yang dimainkan jaringan Yahudi Internasional. Ini kentara pada dua tahun sebelum krisis ekonomi menerpa Asia, ditahun 1996, kalangan intelijen Indonesia mendeteksi adanya flight-capital dalam jumlah cukup besar pindah ke Singapura. Uang sebanyak lebih kurang US $100 milliar milik rakyat Indonesia dibawa kabur sejumlah konglomerat Chinese Overseas ke Singapura, seperti Liem Sioe Liong yang menjual sebagian saham PT. Indofood ke PT.QAF yang berkedudukan di Singapura, padahal PT.QAF ternyata juga milik Liem Sioe Liong. Tidak hanya sampai pemerintahan Soeharto saja campur tangan Singapura di dalam perpolitikan di Indonesia, namun juga masa pemerintahan Habibie dan terus berlanjut hingga masa pemerintahan Gus Dur dan Megawati.
Di pemerintahan Habibie, kelompok yang tidak senang terhadap Habibie, menganggap Habibie terlalu islami lantaran mengetuai ICMI membuat berbagai macam manuver politik yang bertujuan mendiskreditkan pemerintahan yang baru dibentuk. Berbagai isu mencuat seperti pada kerusuhan Mei lalu terjadi pemerkosaan massal terhadap wanita keturunan Cina di Jakarta, Solo, Surabaya, Medan dan Palembang, berbarengan dengan itu berbagai pengalaman para korban pemerkosaan menjejali dunia Internet, lewat internet disebar pula foto-foto yang dikatakan sebagai bukti pemerkosaan pada bulan Mei. Di Singapura malah sempat dipamerkan beberapa hari dengan di tambahi aneka kisah yang sungguh-sungguh dahsyat dan menggambarkan bahwa pelaku adalah teroris islam yang keji. Dengan adanya isu ini menarik perhatian dunia, orang-orang Cina di luar negeri marah besar. Sejumlah situs resmi pemerintah Indonesia dihajar Hacker Cina, sekelompok pengusaha Taiwan membatalkan investasinya di Indonesia. Konsulat Jenderal RI di Hongkong dilempari telur busuk dan beberapa Kedubes RI megalami nasib yang serupa. Kedustaan yang dilemparkan dari kelompok yang tidak senang dengan pemerintahan Habibie membuat pemerintah Indonesia membentuk Tim Investigasi untuk menyelidiki kebenaran dari isu tersebut, namun yang lebih parah lagi tidak seharusnya Singapura melakukan hal-hal yang demikian, karena hal tersebut telah mencampuri kedaulatan dari setiap urusan dalam negeri (Indonesia).
Ketegangan antara Indonesia dengan Singapura yang terjadi pada masa rezim Soekarno, mereda ketika Lee Kuan Yew mengunjungi Indonesia pada tahun 1970 yang mencoba merangkul Soeharto di dalam menjalin kerjasama, dimana dari pihak Soeharto sendiri pun tidak menginginkan perang terhadap Singapura. Kunjungan Lee akhirnya mencairkan kebekuan hubungan Diplomatik antara dua negara. Biasanya, membaiknya hubungan dua negara berarti masing-masing negara dapat memetik keuntungan dari hubungan tersebut. Namun tidak demikian ketika hubungan Indonesia dan Singapura membaik. Berhubungan dengan Singapura dikemudian hari membuktikan lebh banyak kemudharatannya dibanding manfaatnya. Berlebih ketika sikap keras Lee muncul kembali ketika pemerintah Indonesia membangun Batam sebagai pusat otoritas perdagangan bebas di Indonesia dan juga untuk Asia Tenggara. Lee merasa Badan Otorita Batam didirikan untuk menyaingi Singapura yang saah satu sumber penghasilannya juga berasal dari pelabuhan transit perdagangan bebas.
Sejumlah kemudharatan yang terjadi antara lain kasus penyelundupan aneka komoditas yang kian marak dengan volume yang amat fantastis, capital flight uang rakyat Indonesia menuju Singapura yang jumlahnya milliaran dolar AS yang dilakukan oleh para konglomeratn Chinese Overseas, ketika keadaan Indonesia mangalami krisis dan di tambah dengan korupsi yang merajalela pada masa Soeharto, Gus Dur hingga Megawati. Kemudian ditambah dengan Penyelundupan Pasir Laut dari Kepulauan Riau ke Singapura, untuk mereklamasi pantainya guna menambah luas wilayahnya seluas 260 kilometer persegi.